top of page
Maneuver Radio
  • Writer's pictureAisyah Arini

Ramadan di Pengungsian: DMC Dompet Dhuafa Distribusikan Kado Lebaran dan Ragam Bantuan Lainnya




Kabupaten Gresik, Jawa Timur—“Ini sangat mengagetkan. Ibu saya, umur 76 tahun, baru kali ini merasakan gempa semacam ini terjadi di Bawean,” ucap Anita, salah satu penyintas gempa yang terjadi di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.


Di tengah bulan Ramadan, masyarakat Pulau Bawean harus menghadapi situasi sulit pasca gempa yang terjadi pada Jumat (22/3/2024) lalu. Saat ini di antara mereka masih berada di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi memprihatinkan. Sebagaimana yang diceritakan oleh Anita.


Anita bercerita tentang saat awal mula gempa mengguncang tanah Bawean. Ketika itu, pagi menjelang siang, ia sedang bersantai dengan anak perempuannya. Sementara suaminya sedang sibuk bersiap pergi ke masjid untuk shalat Jumat. Di saat-saat itu gempa terjadi.


“Saya bilang ke suami saya, ‘kok ada yang goyang-goyang ini, pak? Ada apa ini, pak?’. Suami saya teriak menyuruh saya dan anak saya keluar rumah,” ujar Anita.


Setelah itu Anita, suami serta anak perempuannya berlari ke luar rumah, menuju area kosong yang aman dari kemungkinan reruntuhan bangunan.


Seperti yang diketahui dari laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dilansir dalam laman CNBC Indonesia, sampai Kamis (4/4/2024) gempa Bawean sudah terjadi 477 kali guncangan. Kekuatan gempa berbeda-beda, mulai dari magnitudo 2,5 sampai magnitudo 6,5. 


Gempa Bawean merusak sebagian besar fasilitas umum yang ada, meliputi sekolah, masjid, mushola, kantor, rumah dinas, pondok pesantren, puskesmas, dan pasar.


Kondisi yang ada akibat gempa, lantas membuat aktivitas warga terdampak terganggu. Termasuk pula berbagai kegiatan di bulan Ramadan ini. 




Sebagian besar warga perlu mengungsi, sehingga aktivitas mereka sehari-hari, termasuk kegiatan selama bulan suci ini, dihabiskan di pos-pos pengungsian. Anita bercerita bagaimana pengalaman itu dialami pada dirinya dan penyintas lainnya. 


“Ada sedihnya ada senangnya di tenda pengungsian. Sedihnya kita tidak ada di dalam rumah. Kita berbuka puasa dan solat tidak di dalam rumah, tapi di tenda pengungsian. Senangnya kita bisa berkumpul bersama saudara-saudara yang jauh di sini. Itu senangnya,” ujar Anita. 


Kehadiran DMC Dompet Dhuafa beserta para relawan melahirkan rasa tenang dan aman bagi para penyintas. Hal ini sangat baik untuk proses penanganan dan pemulihan  dampak materiil maupun dampak psikis yang dialami warga terdampak gempa.


“Kami merasa tenang berada di sini bersama semuanya. Menghilang ketakutan rasanya. Kalau kami kembali ke dalam rumah masih ada ketakutan yang kami rasakan,” kata Anita. 


Atas dasar situasi sulit yang terjadi di tengah masyarakat Pulau Bawean, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa hadir melakukan aski kemanusiaan untuk  membantu para penyintas bencana gempa di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mendistribusikan 40 paket Kado Lebaran, pada Selasa (2/4/2024).




Kado Lebaran didistribusikan di dua titik, di antaranya 30 paket disalurkan di Dusun Dedawang, Desa Teluk Jati Dawang, Kecamatan Tambak dan 10 paket di Dusun Batu Lintang, Desa Teluk Jati Dawang, Kecamatan Tambak. 


Setiap paket kado lebaran berisi sembako yang meliputi beras, minyak goreng, gula, tepung, ikan sarden, dan bahan pokok lainnya. 

Bantuan ini merupakan hasil dari dukungan para donatur yang telah menyalurkannya melalui DMC Dompet Dhuafa.


“Terima kasih sebesar-besarnya untuk para donatur dan DMC Dompet Dhuafa. Bantuan ini benar-benar membantu saya dan kawan-kawan di sini. Terutama di tengah bulan Ramadan ini,” kata Anita, penerima manfaat Kado Lebaran. 


Sementara itu, laporan terkini terkait respons gempa bumi Pulau Bawean menyajikan data asesmen yang dilakukan tim DMC Dompet Dhuafa mengenai kondisi di dua kecamatan terdampak: Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak.


Di Kecamatan Sangkapura, tersebar di 17 desa dengan jumlah penyintas anak-anak 3.049 jiwa, dewasa 9.412 jiwa, dan Lansia 2.454 jiwa.  

Sementara di Kecamatan Tambak, terdapat 13 desa dengan jumlah penyintas anak-anak 7.060 jiwa, dewasa 9.131 jiwa, dan Lansia 2.541 jiwa. 


Lokasi pengungsian tersebar di berbagai tempat, termasuk lapangan sepak bola, halaman rumah, halaman sekolah, dan gunung.

Pada Rabu (3/4/2024), berbagai kegiatan bantuan telah dilakukan, antara lain pendirian Dapur Umum di pengungsian Dusun Dadawang, Desa Teluk Jati Dawang, Kecamatan Tambak, dengan total penerima manfaat sejumlah 200 jiwa.


Dapur Umum di pengungsian Desa Gelam, Kecamatan Tambak tak luput dari jangkauan fokus bantuan yang disalurkan tim DMC Dompet Dhuafa, dengan jumlah penerima manfaat sebanyak  150 jiwa.


“Kami juga mendistribusikan susu UHT di pengungsian Dusun Dedawang, ada 20 jiwa penerima manfaatnya. Kemudian distribusi paket selimut, sarung dan sandal di pengungsian Dusun Dedawang dan layanan berbagi takjil di pengungsian Dusun Dedawang,” lapor Taqi Falsafati tim Respons DMC Dompet Dhuafa di Pulau Bawean dalam laporan tertulisnya. 


Untuk kebutuhan darurat mendesak seperti makanan siap saji, selimut, alas tidur kasur, PFA (Psychological First Aid), dan bantuan medis juga menjadi kebutuhan yang perlu segera disediakan.


Untuk Kamis (4/4/2024), rencana kegiatan yang akan diupayakan tim respons DMC Dompet Dhuafa meliputi layanan dapur umum di 2 titik dan distribusi logistik guna memenuhi kebutuhan para penyintas. 


“Kami juga akan melakukan asesmen fasilitas umum yang terkena dampak gempa,” lanjut Taqi.


Kawan Baik, dalam situasi sulit seperti ini, mari kita bersama-sama memberikan dukungan dan semangat kepada para penyintas gempa bumi Pulau Bawean. Meskipun tantangan besar menghadang, bersama-sama kita bisa bangkit dan membangun kembali kehidupan yang lebih baik. Semoga kekuatan dan harapan selalu menyertai mereka dalam menghadapi masa-masa sulit ini. (MAA/DMC Dompet Dhuafa)


10 views0 comments

Comments


bottom of page